04 Januari 2009
ISRAEL MERUSAK RUMAH ALLAH
Ketika Tuhan menciptakan wanita, DIA lembur pada hari ke-enam.Malaikat datang dan bertanya,"Mengapa begitu lama, Tuhan?"Tuhan menjawab:"Sudahkan engkau lihat semua detail yang saya buatuntuk menciptakan mereka?"" 2 Tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dariplastik. Setidaknya terdiri dari 200 bagian yang bisa digerakkan danberfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga banyak anaksaat yang bersamaan. Punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hatidan keterpurukan… , dan semua dilakukannya cukup dengan dua tangan ini "Malaikat itu takjub."Hanya dengan dua tangan?....impossib le!"Dan itu model standard?!"Sudahlah TUHAN, cukup dulu untuk hari ini, besok kita lanjutkan lagiuntuk menyempurnakannya" ."Oh.. Tidak, SAYA akan menyelesaikan ciptaan ini, karena ini adalahciptaan favorit SAYA"."O yah… Dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri, dan bisabekerja 18 jam sehari".Malaikat mendekat dan mengamati bentuk wanita-ciptaan TUHAN itu."Tapi ENGKAU membuatnya begitu lembut TUHAN ?" "Yah.. SAYAmembuatnya lembut. Tapi ENGKAU belum bisa bayangkan kekuatan yang SAYAberikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa.""Dia bisa berpikir?", tanya malaikat.*Tuhan menjawab:"Tidak hanya berpikir, dia mampu bernegosiasi. "Malaikat itu menyentuh dagunya...."TUHAN, ENGKAU buat ciptaan ini kelihatan lelah & rapuh! Seolahterlalu banyak beban baginya."*"Itu bukan lelah atau rapuh....itu air mata", koreksi TUHAN"Untuk apa?", tanya malaikatTUHAN melanjutkan:"Air mata adalah salah satu cara dia mengekspressikan kegembiraan,kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan dan kebanggaan.""Luar biasa, ENGKAU jenius TUHAN" kata malaikat."ENGKAU memikirkan segala sesuatunya, wanita- ciptaanMU ini akansungguh menakjubkan! "Ya mestii…!Wanita ini akan mempunyai kekuatan mempesona laki-laki. Dia dapatmengatasi beban bahkan melebihi laki-laki.Dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri.Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawasaat ketakutan.Dia berkorban demi orang yang dicintainya.Mampu berdiri melawan ketidakadilan.Dia tidak menolak kalau melihat yang lebih baik.Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya. Dia membawa temannya yangsakit untuk berobat.Cintanya tanpa syarat.Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang.Dia girang dan bersorak saat melihat kawannya tertawa .Hatinya begitu sedih mendengar berita sakit dan kematian.Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup.Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.Hanya ada satu hal yang kurang dari wanita:Dia begitu bahagia mendengar kelahiran.Dia lupa betapa berharganya dia...
SINAR PEMIMPIN

Para pemimpin memiliki kedudukan penting dalam masyarakat Al- Qur’an menegaskan supaya mengikuti dengan kalimat “ati’ullah waati’urrasul,waulil amri mingkum” (taatlah kepada perintah Allah dan taatlah kepada Rasul dan para pemimpin di antara kamu). Dalam istilah Arab terdapat ungkapan al-nas ala dini mulukihim (rakyat selalu mengikuti agama para pemimpin mereka). Ini berarti, pemimpin adalah teladan dan panutan umat qudwah hasanah. Karenanya, para pemimpin tidak hanya cukup terdidik, tapi mereka harus tercerahkan dengan akhlak mulia
Beberapa mufradat ayat menjelaskan, A`immah (para pemimpin), adalah jamak dari imam. Maknanya adalah panutan atau contoh yang diikuti baik dalam kebaikan maupun keburukan. Namun yang dimaksud di dalam ayat ini adalah panutan dan penuntun dalam hal kebaikan. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata: Mereka adalah ulama yang mengerti syariat. Mereka mengajak, memberi hidayah kepada dirinya dan kepada orang lain.
Hakikat pemimpin adalah ilmu. Ingat ketika Allah SWT, ingin menciptakan Adam sebagai khalifah di bumi, dan mendapat protes Malaikat yang intinya kira-kira, “apakah Engkau (Allah SWT) akan menciptakan mahluk yang saling bermusuhan dan ingkar. Sedangkan kami (malaikat) selalu taat kepada-Mu?” Allah SWT menjawab, “sesungguhnya kalian tidak tahu apa yang Aku ketahui”. Lalu Nabi Adam diajarkan dengan nama benda-benda. Para malaikat pun patuh dan sujud kepada Adam, kecuali Iblis.
Karena “ilmu” yang diajarkan itu, maka Adam menjadi khalifah (pemimpin). Artinya, pemimpin itu pada hakikatnya berilmu. Menjadi pemimpin haruslah berilmu sehingga ia menjadi sinar penerang (safara) bagi yang dipimpinnya. Sehingga pemimpin disebut sebagai ulama yang mengerti syariat, menajak, memberi hidayah kepada dirinya dan orang lain. Dan salah satu hadist menyebutkan, “pemimpin/ulama adalah safara (sinar penerang) di dunia dan sinar penerang di akhirat”. Kata “safara” disebut dua kali (di dunia dan akhirat). Ini mengisyaratkan bahwa menjadi pemimpin tidak hanya urusan dunia tapi juga bertanggungjawab untuk urusan akhirat.
Pemimpin sebagai “sinar” atau safara, sifatnya pastilah terang dan bercahaya cerah. Mustahil ada cahaya/sinar yang memantulkan kegelapan. Sinar berbias ke segala arah yang disinarinya, bukan untuk dirinya sendiri. Dan para Nabi sebagai pemimpin umat, senantiasa memohon kepada Allah agar jalan hidup pemimpin diterangi cahaya dan petunjuk. Seperti Nabi Musa As ketika mendapat tugas berdakwah menghadapi raja Firáun yang dzalim dan memperbudak rakyat, beliau berdoa ”ya Allah, lapangkanlah dadaku untukku”. (Q.S,Thaha : 25)
Nabi Muhammad SAW sendiri telah memperoleh pencerahan itu. Allah SWT telah melapangkan dadanya, menghilangkan kesulitannya, dan meninggikan nama dan sebutannya (Alam Nasyrah: 1-4). Dan rasulullah SAW pernah ditanya tentang makna melapangkan dada syahr al shard itu? Jawab beliau “Cahaya Allah yang dimasukkan hati manusia.” Itulah yang disebutkan oleh pakar tafsir Al-Razi sebagai pemimpin yang tercerahkan jiwa, yang lebih terang daripada Matahari. Cahaya matahari bisa terhalang oleh awan, tapi pencerahan jiwa tidak. Ia terus menaik, mendekati Allah (Fathir : 10). Cahaya matahari tenggelam diwaktu malam, sedangkan pencerahan jiwa di waktu malam justru makin terang da berbinar-binar.
Kalau kita renung-renung kenapa selama ini negeri kita carut marut? Jawabnya mungkin banyak pemimpin kita tidak bisa menjadi “sinar” (safara). Mereka pintar dengan bemacam gelar yang berderet-deret, tapi tidak tercerahkan, dan mengecewakan secara moral. Kenapa kadang yang dipimpin itu berontak dan menggeliat, karena mereka terhimpit dan tertindas akibat prilaku pemimpinnya. Ironinya ketika rakyat bergolak, seorang pemimpin sering mengklaim bahwa itu pembangkangan atas pemimpin. Semestinya pemimpin perlu koreksi diri, kenapa ia lawan rakyatnya.
.
Dalam kontek pencerahan bagi para pemimpin, maka ketika para pemimpin membiarkan suatu kejahatan, menyanjung suatu kemaksiatan dengan dalih modernisasi atau memuja korupsi karena bisa membantu kegiatan sosial, disebab jiwa mereka tidak tercerahkan. Dan itulah sejelek-jelek mentalitas.
Dalam konteks Aceh baru di bawah payung kepemimpinan gubernur Irwandi Yusuf dan Wagub Muhammad Nazar atau yang lebih dikenal sebagai pasangan “Sinar” (seuramoe irwandi-nazar) ketika masa kampanye dulu, benar-benar bisa menjadi “sinar” atau safara (penerang) bagi seluruh rakyat Aceh. Seperti janji “sinar”, akan memberikan kesejahtraan dan keadilan untuk semua. Sebab, sifat “sinar” yang memancarkan cahaya tidak hanya untuk dirinya tetapi mencerahkan sekitarnya. Diharapkan Aceh ke depan akan bersinar terang, dan benderang. Mustahil ada sinar yang memantulkan kegelapan. *** (panteue, 11/02/2007)
Beberapa mufradat ayat menjelaskan, A`immah (para pemimpin), adalah jamak dari imam. Maknanya adalah panutan atau contoh yang diikuti baik dalam kebaikan maupun keburukan. Namun yang dimaksud di dalam ayat ini adalah panutan dan penuntun dalam hal kebaikan. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata: Mereka adalah ulama yang mengerti syariat. Mereka mengajak, memberi hidayah kepada dirinya dan kepada orang lain.
Hakikat pemimpin adalah ilmu. Ingat ketika Allah SWT, ingin menciptakan Adam sebagai khalifah di bumi, dan mendapat protes Malaikat yang intinya kira-kira, “apakah Engkau (Allah SWT) akan menciptakan mahluk yang saling bermusuhan dan ingkar. Sedangkan kami (malaikat) selalu taat kepada-Mu?” Allah SWT menjawab, “sesungguhnya kalian tidak tahu apa yang Aku ketahui”. Lalu Nabi Adam diajarkan dengan nama benda-benda. Para malaikat pun patuh dan sujud kepada Adam, kecuali Iblis.
Karena “ilmu” yang diajarkan itu, maka Adam menjadi khalifah (pemimpin). Artinya, pemimpin itu pada hakikatnya berilmu. Menjadi pemimpin haruslah berilmu sehingga ia menjadi sinar penerang (safara) bagi yang dipimpinnya. Sehingga pemimpin disebut sebagai ulama yang mengerti syariat, menajak, memberi hidayah kepada dirinya dan orang lain. Dan salah satu hadist menyebutkan, “pemimpin/ulama adalah safara (sinar penerang) di dunia dan sinar penerang di akhirat”. Kata “safara” disebut dua kali (di dunia dan akhirat). Ini mengisyaratkan bahwa menjadi pemimpin tidak hanya urusan dunia tapi juga bertanggungjawab untuk urusan akhirat.
Pemimpin sebagai “sinar” atau safara, sifatnya pastilah terang dan bercahaya cerah. Mustahil ada cahaya/sinar yang memantulkan kegelapan. Sinar berbias ke segala arah yang disinarinya, bukan untuk dirinya sendiri. Dan para Nabi sebagai pemimpin umat, senantiasa memohon kepada Allah agar jalan hidup pemimpin diterangi cahaya dan petunjuk. Seperti Nabi Musa As ketika mendapat tugas berdakwah menghadapi raja Firáun yang dzalim dan memperbudak rakyat, beliau berdoa ”ya Allah, lapangkanlah dadaku untukku”. (Q.S,Thaha : 25)
Nabi Muhammad SAW sendiri telah memperoleh pencerahan itu. Allah SWT telah melapangkan dadanya, menghilangkan kesulitannya, dan meninggikan nama dan sebutannya (Alam Nasyrah: 1-4). Dan rasulullah SAW pernah ditanya tentang makna melapangkan dada syahr al shard itu? Jawab beliau “Cahaya Allah yang dimasukkan hati manusia.” Itulah yang disebutkan oleh pakar tafsir Al-Razi sebagai pemimpin yang tercerahkan jiwa, yang lebih terang daripada Matahari. Cahaya matahari bisa terhalang oleh awan, tapi pencerahan jiwa tidak. Ia terus menaik, mendekati Allah (Fathir : 10). Cahaya matahari tenggelam diwaktu malam, sedangkan pencerahan jiwa di waktu malam justru makin terang da berbinar-binar.
Kalau kita renung-renung kenapa selama ini negeri kita carut marut? Jawabnya mungkin banyak pemimpin kita tidak bisa menjadi “sinar” (safara). Mereka pintar dengan bemacam gelar yang berderet-deret, tapi tidak tercerahkan, dan mengecewakan secara moral. Kenapa kadang yang dipimpin itu berontak dan menggeliat, karena mereka terhimpit dan tertindas akibat prilaku pemimpinnya. Ironinya ketika rakyat bergolak, seorang pemimpin sering mengklaim bahwa itu pembangkangan atas pemimpin. Semestinya pemimpin perlu koreksi diri, kenapa ia lawan rakyatnya.
.
Dalam kontek pencerahan bagi para pemimpin, maka ketika para pemimpin membiarkan suatu kejahatan, menyanjung suatu kemaksiatan dengan dalih modernisasi atau memuja korupsi karena bisa membantu kegiatan sosial, disebab jiwa mereka tidak tercerahkan. Dan itulah sejelek-jelek mentalitas.
Dalam konteks Aceh baru di bawah payung kepemimpinan gubernur Irwandi Yusuf dan Wagub Muhammad Nazar atau yang lebih dikenal sebagai pasangan “Sinar” (seuramoe irwandi-nazar) ketika masa kampanye dulu, benar-benar bisa menjadi “sinar” atau safara (penerang) bagi seluruh rakyat Aceh. Seperti janji “sinar”, akan memberikan kesejahtraan dan keadilan untuk semua. Sebab, sifat “sinar” yang memancarkan cahaya tidak hanya untuk dirinya tetapi mencerahkan sekitarnya. Diharapkan Aceh ke depan akan bersinar terang, dan benderang. Mustahil ada sinar yang memantulkan kegelapan. *** (panteue, 11/02/2007)
31 Desember 2008
WARKAH KENANGAN "BUAT PARA SYUHADA SMONG (26 DESEMBER 2004)"
Oleh : Ampuh Devayan
WARKAH INI saya rangkai di tengah titian malam yang makin tua. Kucoba pulung jejak-jejak rindu yang pernah membentang di antara kita. Aku coba menatap kalian yang damai, teduh dan tenang dalam peluk-Nya.
Sahabat
Maafkan jika warkah ini mengganggu kedamaian kalian. Bukanlah bermaksud ingin menodai kedamaian itu, mengusik tidur panjang kalian dengan ai mata. Atau kisah pilu dan cerita duka. Aku hanya ingin merangkai kenangan, berbagi cerita, dan mengungkap sesuatu yang mungkin kalian tak sempat tahu.
Sahabat.
Ada getar pilu yang menggetarkan pembuluh darah. Kepiluhan pagi 26 Desember yang kini menjadi membuncah ketika mengingatnya, mengingat kalian yang pernah bersama. Dan hari ini, di angka kalender yang sama, saya merenung ulang sambil mengingat seluruh perjalanan kita, meretas cita-cita di tanah kita, dalam biduk bernama HMI. Saya yakin kalian tak pernah lupa.
Sahabat.
Meskipun sekarang keadaannya sudah berubah. Tapi tidak dengan kalian di hati saya , di hati kami semua. Kalian tetap abadi, tetap bersama kami. Perjalanan panjang yang pernah kita retas tak akan lenyap oleh sebuah bencana yang bernama smong. Dan hari ini di rentang empat tahun, kenangan itu tetap terangkai dan tidak bisa terhapus begitu saja. Karenanya izinkan saya dari hamparan puing bencana untuk mengenang dan menghadirkan kalian dalam sebuah kebersamaan, menyatakan rindu dengan menulis warkah ini, memancangkan bendera setengah tiang untuk tanda cinta kami dalam keremangan tawassul.
Wahai sahabat, wahai para mujahid Insan cita dan insan Allah, yang terbalut dalam gelombang raya; yang dikulum air samudera, berlayarlah dengan tenang, dengan kapal keabadian. Laut telah surut seperti sedia kala. Biarlah kami yang tinggal untuk meneruskan riwayat ini dan menuliskannya dalam notulen abadi.
Sahabat.
Lihatlah bentangan layar putih yang berisi nama kalian, sambung menyambung sampai ke ujung laut. Kami membaca berulang‑ulang untuk disimpan rapat dalam ingatan sambil mendayung biduk cita kita. Meskipun terasa letih dan tersengat mentari, lelah raga ini menapaki hari-hari--biduk itu terus kami kayuh. Kami tidak tahu apakah perjalan masih panjang. Sebab semua berada dalam genggaman kekuasaan-Nya. Kami hanya bisa menghitung ruas jari-jari tangan dalam tasbih, untuk memastikan Tuhan Yang Mahakuasa memilih siapa saja untuk dijemput-Nya.
Sahabat.
Kita hanyalah debu! Dan kematian adalah suatu yang pasti. Yang bisa menjemput di setiap tarikan nafas, mengintai di setiap detak jantung. Sungguh, tidak ada kesempatan kita menghindari, atau berlalai lalai dari mempersiapkannya. Kematian adalah tunangan, hanya menunggu giliran, tanpa menunggu kita selesai. Sehingga ia sering mengejutkan semua orang. Kematian adalah soal waktu, tapi pasti, seperti dalam firman-Nya.
Sahabat.
Tepat angka kalender hari ini (26 Desember) buat kalian yang mendahului meretas perjalanan lanjutan tanpa sempat menunggu menuntaskan segala gagasan, yang tergesa menunggu mengusung segala cita dan harapan-- tentang negeri kita yang masih koyak-moyak, tetang rakyat ini yang masih morat-marit, tentang generasi endatu yang makin cenderung anomaly. Juga cerita tentang sahabatmu yang satu ini harus terseok-seok, kami hanya bisa mengucap, selamat tidur panjang, dan damailah kalian di peluk-Nya. Dan warkah ini kusampul doa untuk penanda duka. Duka kehilangan sahabat, kehilangan kafilah pejuangan di tengah atmosfera kehidupan yang makin ruwet ini.
Sahabat
Saya tulis terus warkah ini untuk mengenangkan kalian hingga tiba saat tidak bisa lagi menulisnya. Dan warkah ini menjadi penggalan dari titik renung bagi kami yang masih hidup. Titik untuk menyadari betapa kita sesungguhnya tak berdaya. Hanya debu di depan Sang Pemilik Abadi, Allah Rabulizzati. Dan gelombang laut yang telah menggalaukan itu, bagi kalian adalah jalan mulus menuju surga-Nya. Sementara bagi kami, gelombang demi gelombang hidup yang harus dijalani belum memastikannya. Kami mencoba parsah sembari bersimpuh di hadapan-Nya, menyusun sujud di atas debu-Nya yang gelap, merangkai kalimat doa, memohon agar dalam hidup ini diberikan segalanya yang terbaik, agar Dia tunjuki jalan yang lurus; istiqamah di tengah fitnah, sabar di tengah makar, ikhlas menghadapi hidup yang keras.
Sahabat, para ikhwan yang direngkuh Allah.
Warkah ini kami tulis sebagai rangkai dari bait-bait pinta agar sejurus sujud memberi arti, agar kami lemah ini tepat melangkah, jiwa yang resah ini bisa dtenangkan, hati yang sombong ini akan dapat diredah, dan tubuh yang penuh dosa-dosa ini bisa ditaskiyah agar lurus menuju jalan-Nya. Ya Allah, ya Rabby, ya Saidi, ya MaulaiKami mengetuk pintu taubat-Mu, sucikan karat-karat dosa kami. Leraikan kami dari tamak dunia dan dominasi ambisi. Lepaskan kami dari sesak durjana dan nafsu amarah yang hanya akan mengurangi kemuliaan kami di hadapan-Mu.
Rabbi, tiada Tuhan selain Engkau, terangilah hati kami ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar, lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakkal pada-Mu. Jangan jadikan untaian kalimat ini hanya sebatas rangkaian kata dan penghias lisan kami.
Ampuni dosa-dosa kami yang meruntuhkan penjagaan , yang mengundang bencana, yang merusak karunia, yang menahan doa.
Kami memohon Mu melalui kemurahanMU
dekatkan kami ke haribaanMu, yang telah lancang menganiaya dir, yang telah lancang melanggarMu karena kebodohan kami
Ya Allah pelindungi kami
betapa banyak keburukan kami telah Engkau sembunyikan
betapa banyak malapetaka telah Engkau atasi
betapa banyak rintangan telah Engkau singkirkan
betapa banyak bala telah Engkau tolakkan
betapa banyak pujian baik yang tak layak kami sandang telah Engkau sebarkan
betapa banyak kelalaian kami karena terpedaya tipuan telah Engkau maafkan
Duhai majikan kami!
Kami memohon kepadaMu
melalui kemuliaanMu
Duhai Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul dalam cinta kepadaMu, telah berjumpa dalam taat kepadaMu, telah bersatu dalam dakwah kepadaMu, telah berpadu dalam membela syariatMu, maka kuatkanlah yaa Alloh, ikatan-nya..."
Ampuni dosa penduduk negeri ini, baik yang terdahulu maupun yang kemudian, baik yang tersimpan sebagai rahasia maupun yang terlihat nyata.
Pinta kami semoga dicondongkan semua hati makhluk di seluruh penjuru mata angin ke negeri ini, dijatuhkan semua kecintaan, dipaksakan hati kepada negeri ini dengan tulus dan belas kasih tanpa tertunda, dan disibukkannya untuk mencintai bangsa ini.
Dari ujung nusantara, hamba-Mu begitu rindu kedamaian. Kedamaian yang pernah menorehkan kebahagiaan bersama sejuknya angin pagi di hamparan blang yang pernah menjadi hamparan perang. Kami rindu pada pelangi, yang membentang di atas Seulaweut, menerawang ke bulan untuk menyimak sayu-sayup gema rapa-I memecah keheningan malam, membidik bintang sambil menyimak irama pengajian di Meunasah yang bertingkah dengan senandung kedamaian, kerinduan liuk tari kolosal “ranup lampuan” dan “seudati” yang melantunkan kejujuran, keindahan, kemuliaan dan kedamaian, malam ini juga.
Ya Rabb, kepada-Mu yang kami pulangkan segala pengaduan itu.
Dari sahabatmu,
AMPUH DEVAYAN (Alumni HMI dan Redaktur Harian Serambi Indonesia)
Langganan:
Postingan (Atom)